
Perayaan maulid Nabi SAW atau kelahirannya diselenggarakan dalam bulan Rabiul Awal selalu menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani yang dikutip oleh Imam as-Suyuthi dalam kitab al-Hawi lil Fatawi sedikitnya ada empat (4) cara memperingati maulid Nabi.
firman Allah dalam Al-Qur’an surat yunus ayat 58 dijelaskan:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: 58)
Artinya: “Katakanlah Muhammad, dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya maka hanya dengan itu berbahagialah orang-orang yang beriman. Hal itu (anugerah dan rahmat-Nya) lebih baik daripada harta dunia yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58).
Merujuk penafsiran Ibnu Abbas ra, maksud anugerah Allah dalam ayat tersebut adalah ilmu, sedangkan maksud rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad SAW. Imam as-Suyuthi meriwayatkan:
وأخرج أبو الشيخ عن ابن عباس رضي الله عنهما في الآية قال: فضل الله العلم ورحمته محمد صلى الله عليه وسلم. قال الله تعالى: وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين ( الدر المنثور فى التفسير بالمأثور . لجلال الدين السيوطى )
Artinya: “Abus Syekh meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra berkaitan ayat 58 surat Yunus, ia berkata: ‘Anugerah Allah adalah ilmu dan rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad SAW. Allah ta’ala berfirman: ‘Dan tidaklah Aku mengutusmu Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (dinukil dari kitab ad’daurul ma’tsur fit tafsiri bil ma’tsur Imam Jalaluddin Asy Syuyuthi)
Merujuk penjelasan al-Hafidh Ibnu Hajar al ‘Asqalani yang dikutip oleh Imam asy Suyuthi dalam kitab al-Hawi lil Fatawi, memperingati maulid Nabi dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai ekspresi kebahagiaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di antaranya dengan (1)membaca Al-Qur’an, (2)memberi makan orang, (3)bersedekah, dan (4)mengungkapkan berbagai pujian kepada Nabi, seperti dengan membaca Maulid al-Barzanji, Maulid Diba’, Simtuth Durar, Dhiyâul Lami’ dan semisalnya, yang dapat mendorong hati untuk lebih giat melakukan amal kebaikan sebagai bekal di kehidupan akhirat kelak.
Demikian pula ungkapan kebahagiaan atas maulid Nabi dapat dieksperesikan dengan mendengarkan lagu-lagu, gurauan sekadarnya, dan semisalnya, selama hal itu dibolehkan dalam agama. (Pen:Sholah/Ed:Silvi)


