
Dalam kitab Risalatu Ahlissunnah Wal Jamaah, Kyai Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa golongan Ahlussunnah itu adalah mereka yang secara aqidah mengikuti madzhab Abu Hasan AlAsy’ari, dan dalam berfiqih mengikuti salah satu madzhab empat.“ Madzhab aqidah yang kemudian dikenal dengan aqidah Asy’ariyah ini diikuti oleh mayoritas ulama ahli hadits ternama dan ulama fiqih utama seperti Al-Baihaqi, Al-Baqilani, Al-Ousyarri, Al Juwaini, Al-Ghazali, Fakhruddin Al-Razi, Al Nawawi, Al-Suyuti, Izzuddin bin Abdissalam, Taqiuddin Al-Subki, Ibnu Asakir dan Ibnu Hajar AlAsqalani,. Mereka meliputi ulama dari berbagai madzhab fiqih Syafi’i, Maliki, Hanafi dan sebagian Hanbali.
Di kalangan pondok pesantren salaf, aqidahasy’ariyah sudah tidak asing lagi. Kitab tauhid asy’ariyah dipelajari dimadrasah diniyah seperti : aqidatul awwam yang terkenal dengan nadhomannya yang sering kali dibuat pujian di mushola-mushola sebelum dilaksanakan sholat lima waktu, ada juga kitab ad’dasuqi jawahirul kalamiyah yang dikaji tingkat madrasah tsanawiyyah di pondok-pondok salaf.
Konsep dan metode yang terdapat pada aqidah Asy’ariyah pada dasarnya sudah ada dan diikuti oleh generasi salafus soleh, yakni generasi Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in. Namun konsep ini disusun secara lebih terstruktur oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dan para ulama Aswaja setelahnya.
Siapa Abul Hasan Al-Asy’ari?
Abul Hasan Al-Asy’ari lahir di Basrah Irak pada tahun 260 H/874 M. Ia memulai belajarnya di kota kelahirannya ini sebelum melanjutkan studi ke Bagdad dan tinggal di kota ini sampai wafatnya pada tahun 324 H/936 M.
Pada awal hidupnya ia mengikuti madzhab Muktazilah, lalu bertaubat dan kembali ke madzhab Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yakni madzhab Salaf dan membebaskan diri dari pandangan yang dianut Mu’tazilah seperti pendapat bahwa Al-Ouran itu makhluk dan bahwa pelaku dosa besar itu berada di tempat di antara dua tempat (surga dan neraka). Abu Hasan Al-Asy’ari dikenal luas ilmunya dan dalam wawasannya. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya karya tulisnya di berbagai bidang studi Islam. Abu Ishag Al-Isfirayini, seorang ulama madzhab Syafi’i yang masyhur, menyatakan: “Aku dibanding Syekh Abul Hasan Al-Bahili bagaikan setitik buih di lautan. Aku mendengar Abul Hasan Al-Bahili berkata, ‘Aku dibanding Syekh Abul Hasan Al-Asy’ari bagaikan setitik buih di pantai.
Ketinggian ilmunya juga bisa dimaklumi dari banyaknya ulama dari berbagai generasi yang mengikuti madzhabnya. Dan itu menjadi bukti atas kebenaran aqidah Asy’ariyah. Dalam sebuah hadits yang masyhur, Rasulullah bersabda: “Umatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan” ? Dalam mengomentari hadits ini, Al-Sindi menjelaskan: “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan maksudnya dalam kekufuran, atau kefasikan atau kesalahan dalam berijtihad. Dengan kata lain umat Islam tidak akan bersepakat dalam suatu pandangan aqidah atau ijtihad hukum yang salah. Justru, apabila umat sepakat atas suatu ijtihad maka kesepakatan itu menjadi dalil atas kebenarannya karena umat tidak akan sepakat dalam kesesatan. Lanjutan hadits ini menyatakan: “Apabila kalian melihat perbedaan, maka ikutilah al-sawad ala’zham.”
Siapa yang dimaksud al-sawad al-a’zham? Al-Sindi menjelaskan: Yaitu golongan muslim yang banyak. Kesepakatan mereka mendekati pada ijmak. Imam Suyuti mengatakan yang dimaksud as-sawad al-a’zham adalah mayoritas umat yang sepakat pada jalan yang lurus. Hadis ini menunjukkan anjuran untuk mengamalkan pandangan mayoritas (ulama).
Dengan demikian, maka Abul Hasan AlAsy’ari sebagai pelopor dari konsep agidah tauhid Asy’ariyah sudah sewajarnya disebut sebagai Imam Ahlussunnah Wal Jamaah dan bahwa aqidah Asy’ariyah adalah aqidah yang benar. Karena aqidah ini diikuti oleh mayoritas para ulama (as sawadul a’zham) yang memiliki otoritas tinggi dalam berbagai bidang dan dari berbagai madzhab fikih seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. (Pen:Sholah/Ed:Silvi)


